Selasa, 19 Oktober 2010

Lagu Muhammad Nabiku "Hadad Alwi "Disusupi ajran agama lain



PEKANBARU,KOMPAS.com — Umat Muslim di Indonesia diimbau untuk berhati-hati dalam membeli kaset VCD Haddad Alwi, Muhammad Nabiku, terutama versi bajakan yang sudah disusupi ajaran dari agama lain.

Seorang warga Pekanbaru yang membeli keping cakram kaset tersebut, Boy (25), Selasa, mengaku kecewa dengan tidak adanya etika pihak yang telah memasukkan pesan tertentu dari isi kaset tersebut hingga bisa merusak akidah umat Islam, terutama generasi muda dan keutuhan NKRI.

"Seharusnya, hal seperti itu tidak terjadi. Nantinya kalau umat Muslim bereaksi dikatakan mereka radikal. Jadinya serba salah karena ini menyangkut akidah," ujarnya.

Wakil Ketua Komisi III DPRD Pekanbaru Ade Hartati Rahmad mengimbau masyarakat untuk berhati-hati terhadap VCD bajakan tersebut karena menyangkut akidah.

"Terutama orangtua harus berhati-hati dalam membeli produk seperti VCD tersebut yang sudah disusupi ajaran agama tertentu," ujarnya.

Ia minta agar hal ini perlu disikapi secepatnya. Kalau bisa, peredaran VCD bajakan tersebut secepatnya dihentikan," ujarnya.

Anggota Komisi II DPRD Pekanbaru, Muhammad Fadri, meminta pihak Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Kementerian Agama cepat tanggap terhadap persoalan tersebut.

"Hal ini karena sudah masuk dalam kategori penistaan agama. Dan, itu dilakukan secara sistematis. Oleh karena itu, Pemerintah Kota harus bertindak cepat dengan melakukan penarikan," katanya.

Jika dalam kaset VCD orisinal berindikasi penistaan agama, produser ataupun perusahaan yang mengeluarkan harus mempertanggungjawabkannya. "Apalagi, penistaan agama terjadi pada akhir cerita dan sangat membekas pada anak-anak," tukasnya.

Ketua MUI Riau Mahdini mengatakan, pemerintah harus secepatnya mengambil tindakan dalam permasalahan ini.

Apalagi persoalan tersebut berindikasi penistaan agama yang sensitif bagi setiap orang.

Mahasiswa yang membuat SBY marah...!!

Mungkin artikel dari majalah Gatra ini sudah lama (Agustus 2008), akan tetapi menurut aq masih menarik untuk didiskusikan. Karena bila melihat fakta dan realitas yg ada di negara kita...

berikut artikelnya : (http://www.gatra.com/2005-12-20/artikel.php?id=90775)



Tylla Subijantoro, mahasiswi S-2 ilmu hukum Universitas New Delhi, India, tiba-tiba mencuri perhatian. Pertanyaan Tylla kepada Presiden Yudhoyono konon membuat SBY marah. "Saat berdialog dengan masyarakat Indonesia di India, ada warga yang sejak mulai bicara sampai selesai menjelek-jelekkan negeri kita dan memuji luar negeri. Saya menyesalkan," kata SBY di Tanah Air.

Apa yang ditanyakan Tylla kepada SBY pada pertemuan 23 November lalu itu? Berikut petikan perbincangan Tylla dengan Basfin Siregar dari Gatra:

Benarkah Anda menjelek-jelekkan bangsa sendiri?
Saya tidak terima dibilang menjelek-jelekkan bangsa! Yang saya jelek-jelekkan itu pemerintah. Saya membandingkan kebijakan Pemerintah India dengan SBY. Saya lihat Pemerintah India memberi subsidi gede banget untuk pendidikan. Adalah salah pemerintah kalau pendidikan di Indonesia makin nggak terjangkau!

Berapa uang kuliah Anda di India?
Untuk program S-2 dua tahun, saya cuma bayar US$ 600, sekitar Rp 6 juta. Itu sudah all-in, sudah admission fee dan tuition fee. Tinggal mikir biaya hidup. Dan biaya hidup di Delhi sama dengan di Jakarta. Uang US$ 600 itu pun karena saya foreigner yang bayar lebih mahal. Soalnya, duit saya itu dipakai buat subsidi warga India asli. Kalau orang India yang kuliah, setahun bayarnya cuma 700 rupee, sekitar Rp 40.000.

Bagaimana dibandingkan dengan biaya di Indonesia?
Tahun lalu, saya mendaftar program notariat. Untuk semester pertama saja habis Rp 50 juta.

Anda kaget ketika SBY marah?
Sebenarnya SBY marah bukan karena pertanyaan saya. Melainkan karena waktu SBY ngasih penjelasan, eh, saya malah bisik-bisik ke teman. Saya bilang, ''Ah, SBY mau ngomong apa, nyatanya anaknya disekolahin ke luar negeri juga. Berarti dia setuju pendidikan di luar negeri bagus.''

Reaksi SBY bagaimana?
SBY sepertinya menganggap saya anak yang kaget. Baru sekali sekolah di luar negeri, kok, sudah sombong banget. Soalnya, SBY bilang bahwa dia sudah sembilan kali sekolah di luar negeri, dan pendidikan di Indonesia nggak jelek. Tapi kenyataannya, di ranking dunia, pendidikan Indonesia kan nggak masuk?

Ketika dibentak, reaksi Anda sendiri bagaimana?
Saya senyum aja, terus diem nunduk-nunduk, manggut-manggut minta maaf. Terus saya perhatikan lagi. Tapi saya bisik ke teman itu cuma beberapa detik aja kok. Sepanjang sebelumnya saya juga memperhatikan penjelasan SBY.

Seperti apa jawaban SBY waktu menjawab pertanyaan Anda?
Ya pokoknya pemerintah sudah bekerja, bahwa pendidikan di Indonesia tidak jelek. Pendidikan di luar negeri ada yang bagus, tapi ada juga yang lebih jelek dibanding di Indonesia. Begitu. Terus waktu menjawab soal buku-buku murah, SBY bilang kalau pemerintah juga sudah menyiapkan content (materi) untuk buku-buku SD, bagaimana agar bisa kepake untuk sekian generasi. Teknis begitu. Itu kan nggak nyambung dengan apa yang saya sampaikan.

Seperti apa subsidi pendidikan di India?
Di sini, buku murah luar biasa, bahkan buku-buku impor karena pemerintah memberi subsidi kertas! Selain itu pemerintah juga bikin kerja sama dengan penerbit-penerbit gede kayak Penguin Books agar buku-buku mereka bisa dicetak di India, jadi bisa dijual lebih murah. Buku-buku kuliah saya, kalau dikonversi ke rupiah, paling mahal cuma Rp 10.000. Kalau di Indonesia, saya bisa keluar sampai Rp 2,5 juta untuk beli buku saja. Dan karena subsidi kertas itu, harga langganan koran juga murah. Saya itu langganan satu koran, satu majalah berita semacam Gatra, dan satu majalah wanita. Nah, untuk langganan tiga media itu, sebulannya saya cuma bayar 110 rupee, atau sekitar Rp 22.000. Selain itu di India, pelajar dapat fasilitas kartu abonemen yang harganya cuma 50 rupee, atau sekitar Rp 10.000, yang berlaku selama empat bulan. Dengan kartu pas itu, selama empat bulan kita bisa gratis naik bis pemerintah jurusan apa aja. Mau keliling-keliling Delhi juga boleh. Meski bisnya bobrok, tapi nyaman. Berhentinya juga cuma di halte. Kartu abonemen itu selain untuk pelajar, juga dikasih untuk pegawai negeri, tentara, orang jompo dan physically disabled (orang cacat). Itu untuk transportasi.

Tidak takut dianggap melebih-lebihkan India?
Lho, justru karena saya cinta bangsa Indonesia, saya ingin pemerintah belajar kepada India. Orang Indonesia itu pintar-pintar. Tapi, soalnya, pemerintah tidak bisa memfasilitasi pendidikan murah. Para insinyur di India mampu bersaing untuk masuk di Microsoft. Sedangkan di Indonesia hanya beberapa orang saja yang beruntung. Maka tolonglah pemerintah bikin agar pendidikan itu affordable.

Tapi, pendidikan di Indonesia kan ada juga bagusnya?
Kalau mau jujur, infrastrukturnya lebih bagus. Di kampus sudah ada lift, whiteboard, pakai OHP. Kalau di sini enggak. Naik dari lantai I ke lantai IV masih manual, masih pakai kapur tulis, terus nggak ada AC. Tapi, kalau kualitas content-nya, kita kurang.

Kalau pengajarnya bagaimana?
Kalau di India enaknya, dosen-dosen itu bisa dihubungi kapan saja. Kayak Amartya Sen, peraih nobel, kalau mahasiswanya minta diskusi private session, masih dilayanin. Nggak susah. Bahkan presidennya sendiri, Abdul Kalam, dia juga mengajar, dan masih bisa ditelepon! Saya pernah bareng mahasiswanya makan malam bareng Abdul Kalam. Saya lihat Abdul Kalam itu dikritik mahasiswanya yang orang India, ditunjuk-tunjuk gitu, dia nggak marah kok. Masih santai aja.

Setelah pertemuan dengan SBY itu, apakah Anda ditegur, misalnya oleh orang KBRI?
Ah, nggak. Orang KBRI itu asyik-asyik. Yang ribut itu justru pegawai negeri (dari Indonesia) yang tugas belajar ke India. Mereka pada marah. Dibilangnya saya itu anak itik yang baru keluar dari induknya, kaget. Padahal saya kan juga bukan baru pertama kali ke luar negeri. Sebelumnya saya kan juga sempat ikut summer course atau homestay gitu. Tapi kan nggak kompatibel kalau membandingkan Indonesia dengan negara-negara maju. Makanya dibandingin dengan India.

Weleh, Dihukum Guru, Siswi Di Suruh Lepas Rok


Gara-gara menggunakan rok mini seorang siswi SMPN 4 Tawangsari Sukoharjo, dihukum oleh gurunya untuk melepaskan roknya, kira-kira mau diapain ya?Jangan berpikir negatif dulu, dia hanya disuruh ganti dengan sarung yang telah di sediakan oleh guru tersebut.

Kejadian yang terjadi di wilayah tempat aku tinggal ini, boleh di bilang dibenarkan, kenapa saya bilang dibenarkan? karena Siswi ini terang-terangan melanggar peraturan yang ada yaitu tidak boleh menggunakan rok mini dan ketat, tapi cewek ini melanggarnya, maka wajar saja dia dihukum oleh guru tersebut.



Kejadian ini bermula ketika siswi bernama Anisa Aulia Putri pada Rabu 22 September dipanggil oleh guru BP bermama Sugiman. Gadis ini di panggil karena menurut Sugiman rok yang dipakai oleh Anisa terlalu ketat dan pendek sehingga diminta dilepas dan digantikan dengan sarung yang disediakan oleh BP.

Setelah mengenakan sarung, Anisa diminta untuk tetap mengikuti pelajaran di ruang kelas hingga pelajaran usai. Tapi yang disayangkan ketika pelajaran telah usai, guru BP ini tidak mengembalikan rok milik Anisa sehingga dia kebingungan. Beruntung saja, Salah seorang temannya mau meminjamkan celana training untuk dipakainya.

Akibat kejadian ini, Anisa malu dan syok sehingga tidak masuk sekolah keesokan harinya. Tapi setelah dibujuk orang tuanya, Anisa akhirnya mau masuk sekolah lagi. Kepala sekolah SMPN 4 Tawangsari ketika di konfirmasi oleh Okezone mengakui kejadian itu. Menurutnya apa yang dilakukan oleh Guru BP tersebut sebatas untuk menegakkan kedisiplinan karena Rok yang dipakai siswi tersebut dan beberapa siswi lainnya terlalu ketat dan pendek.
Tapi Kepala sekolah bernama Sriyono ini menepis tudingan bahwa rok yang dilepas itu tidak dikembalikan kepada siswi yang bersangkutan. Siswi tersebut sudah diminta melepas sarung dan kembali mengenakan roknya. Atas kejadian itu pihak sekolah menyatakan penyesalannya dan akan meminta maaf kepada keluarga yang bersangkutan.

Setelah Kalahkan iPhone, Android Bakal Gusur BlackBerry

Agaknya tahun 2010 adalah tahun keemasan bagi Android, di awal semester kedua tahun 2010 ini saja ada lebih dari lima gadget berbasis Android diluncurkan di Indonesia. Bukan cuma merek asing yang menggelar produknya, melainkan juga vendor lokal. Wujudnya pun bervariasi antara ponsel cerdas (smartphone) dan PC tablet.

Bisakah BlackBerry bertahan dari ancaman pertumbuhan Android

Bisakah BlackBerry bertahan dari ancaman pertumbuhan Android

Kelima produk tersebut adalah HTC Wildfire, Acer Liquid E, Nexian Journey, Zyrex One Pad, dan Huawei SmaKit. Belum lagi ditambah tablet SkyPad keluaran Skybee dan KomodoPad bikinan praktisi TI, Michael Sunggiardi. Yang terbaru adalah di luncurkannya Samsung Galaxy tab juga Tablet keluaran Dell yaitu Dell Streak. Fakta ini bisa menjadi pertanda cepatnya adaptasi sistem operasi mobile besutan Google ini di tanah air. Entah memang konsumen lokal sudah paham cara mengoptimalkan Android, entah masih sekadar ikut-ikutan tren.

Peranti Android boleh sukses dari segi produksi. Namun, bagaimana dari sisi komersial? Sayangnya, hingga saat ini, belum ada data terpublikasi mengenai besaran penjualannya di Indonesia. Mungkin dikarenakan masa pemasaran produk yang rata-rata belum berusia enam bulan.


Forecast pertumbuhan flatform OS untuk smartphone

Forecast pertumbuhan flatform OS untuk smartphone, Android diramalkan bakal menjadi market leader diikuti dengan Windows Mobile dari Microsoft

Nah, sembari menunggu data pencapaian Android secara nasional, mari kita lihat dulu raihan platform open source ini di seluruh dunia. Awal Agustus lalu, lembaga riset Gartner merilis laporan penjualan ponsel cerdas berdasarkan sistem operasi pada Q2 2010. Hasilnya cukup mengejutkan. Berdasarkan analisis mereka, penjualan peranti berbasis Android berhasil menyalip iPhone.

Peningkatannya bahkan sangat signifikan. Pada Q2 2009, Android berada di peringkat enam dengan pangsa pasar hanya 1,8%. Medio tahun ini, mereka naik ke posisi tiga dengan jumlah pengguna mencapai 17,2% alias naik 9x lipat. Di lain pihak, pasar pengguna iPhone cuma meningkat satu persen, dari 13% menjadi 14,2%, dan harus puas bertengger di peringkat empat.


Samsung Galaxy Tab berbasis Android yang belum lama dirilis ke pasar

Samsung Galaxy Tab berbasis Android yang belum lama dirilis ke pasar

Singgasana platform terlaris sendiri masih dipegang duo Symbian (41,2%) dan BlackBerry OS (18,2%). Tapi, pangsa keduanya semakin kecil akibat dilahap Android. Jumlah pengguna Symbian bahkan menurun sampai 10% dibanding tahun lalu. Ada juga dua laporan lain dari Nielsen dan Canalys yang khusus menyoroti pemasaran ponsel cerdas di Amerika Serikat. Nielsen menyebut BlackBerry OS sebagai platform paling populer (33% pangsa pasar), sementara Canalys justru punya estimasi Android-lah yang paling top (34% pangsa pasar). Walau mencatat hasil berbeda, garis merahnya tetap sama. Android mengalami pertumbuhan fenomenal dalam satu tahun terakhir, lebih dari 800%.

Jika tidak hati-hati, bukan cuma iPhone yang tergeser. BlackBerry OS pun bisa jadi harus menyerahkan tahtanya dalam waktu dekat.
Ref: Info Komputer



sumber : http://ruanghati.com/2010/10/20/setelah-kalahkan-iphone-android-bakal-gusur-blackberry/